Dilarang
demo, kata itulah yang pertama muncul dan terdengar di telinga saya sebelum
saya kuliah. Kata itu di lontarkan oleh seorang guru di sekolah saya. Alasan real
guru saya mengatakan seperti itu karena dia melihat di televisi mahasiswa –
mahasiswa yang sering demo dan merusak sejumlah fasilitas-fasilitas umum. Dia
tidak ingin ketika anak didiknya kelak ketika kuliah sering demo apalagi sampai
anarkis seperti yang dia lihat di televisi, dia berkata dan kata-katanya masih saya ingat persis
yaitu “kalian ketika kuliah nanti jangan demo-demo, tugas kalian bukan demo,
melainkan kuliah dan belajar. Jangan seperti mereka mahasiswa yang sering demo
dan merusak sejumlah fasilitas umum. Semua mahasiswa kerjaannya demo terus.”
Mungkin statement
guru saya diatas masih bisa saya terima pada waktu itu (sebelum kuliah).
Akan tetapi, statement yang saya dengar dari guru saya ketika saya
kuliah tidak berlaku lagi. Setelah saya menjadi seorang mahasiswa dan mengikuti
masa pengenalan kampus atau yang biasa disebut Mastama (Masa Ta’aruf Mahasiswa)
saya mengetahui tentang siapa mahasiswa itu? mengapa dinamakan mahasiswa? Dua
pertanyaan tersebut yang membuat saya penasaran sebelum saya menjadi mahasiswa.
Di mastama tersebut saya di sajikan dengan berbagai materi yang bagi saya
sangat membosankan, mungkin karena materi yang lama disamping pelaksanaan
mastama yang hampir satu minggu lebih membuat saya jenuh dalam mengikuti
kegiatan tersebut. Tetapi saya mendapatkan pengetahuan baru salah satunya tentang
kemahasiswaan, pada materi kemahasiswaan bagi saya itu sangat penting sekali
untuk diikuti karena materi ini yang kemudian akan menjawab
pertanyaan-pertanyaan diatas. Dari materi tentang kemahasiswaan itu sedikit
yang saya ambil kesimpulan bahwa mahasiswa itu adalah pelajar yang tingkatannya
sangat tinggi, dibandingkan dengan pelajar-pelajar yang lain seperti pelajar
SD, SMP dan SMA. Ternyata mahasiswa itu sangat tinggi tingkatannya dari pada
pelajar-pelajar yang lain, oleh karena itu di sebut “Mahasiswa”.
Setelah
saya mengikuti mastama dan “katanya” sudah sah menjadi mahasiswa, saya kemudian
mengikuti sejumlah organisasi yang ada di kampus, yang saya inginkan pada waktu
itu adalah organisasi ekstra kampus. Karena pada waktu itu organisasi yang saya
kenal hanyalah IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), maka saya sempat akan mengikuti pelatihan dasar atau yang dikenal
dengan sebutan DAD (Darul Arqom Dasar) tetapi saya tidak jadi ikut organisasi
itu karena saya mendengar ada organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang
pernah saya dengar sebelum saya kuliah. Dan akhirnya saya putuskan untuk masuk
ke organisasi itu. Organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, organisasi
mahasiswa terbesar di Indonesia dan organisasi yang pengkaderannya militan ke
dua sesudah tentara. Selain itu alasan yang lain kenapa saya masuk organisasi
hijau hitam dikarenakan organisasi ini yang di kedepankan adalah
Intelektualitas dan Idealitas. Saya tidak ragu lagi untuk menjadi bagian dari
organisasi ini karena melihat banyak tokoh-tokoh Indonesia seperti Jusuf Kalla,
Akbar Tandjung, Mahfud MD, Munir, Yusril Ihza Mahendra, Anis Baswedan dan masih
banyak yang lainnya yang dulu mereka adalah kader-kader dari organisasi yang
didirikan oleh Lafran Pane ini. Memang saya akui mereka menjadi sukses bukan
semata-mata karena mereka masuk HMI, melainkan mereka sukses karena kerja keras
mereka sendiri. Tetapi, saya yakin ada pengaruh besar dari organisasi ini yang
membuat mereka sukses. Lanjut cerita, saya daftar untuk ikut pelatihan dasar
pengkaderan atau yang biasa di kenal dengan sebutan LK (Latihan Kader) HMI. Di
LK tersebut banyak sekali materi tentang HMI, yang menarik bagi saya, ternyata
di LK ini ada juga materi yang berhubungan tentang mahasiswa dan membuat
pengetahuan saya tentang mahasiswa yang sebelumnya saya dapat ketika mastama
menjadi bertambah. Saya semakin tahu betapa pentingnya mahasiswa dalam merubah
sekaligus mempengaruhi kebijakan-kebijakan negara. Mahasiswa yang disebut
sebagai The Agent Of Change dan Social Control harus mampu
menjaga ideologinya sebagai mahasiswa yang berperan penting dalam perubahan,
mahasiswa harus berjalan independent dan tidak terikan oleh perjanjian-perjanjian politik yang memanfaatkan mahasiswa sebagai motor
penggerak untuk mendukung ataupun menolak setiap kebijakan yang dikeluarkan
pemerintah. Selain itu, didalam materi tersebut dijelaskan juga pentingnya mahasiswa untuk selalu
respons terhadap setiap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak menguntungkan
rakyat. Itulah sebagian kecil yang saya ambil dari LK I HMI.
Karena
itu, setelah saya mengikuti LK I HMI. Saya kemudian berfikir bahwa disinilah
peran mahasiswa yang sebenarnya, aksi demo yang dilakukan mahasiswa sebenarnya
merupakan wujud dari peran mahasiswa sebagai The Agent Of Change dan Social
Control. Saya semakin mengerti kenapa mahasiswa sering melakukan demo yang
menurut penilaian segelintir orang merupakan tindakan yang tidak patut
dilakukan oleh mahasiswa. Kenapa saya mengatakan segelintir orang? Segelintir
orang yang saya maksud adalah mereka yang belum tahu peranan mahasiswa
sebenarnya. Mereka hanya menganggap mahasiswa itu hanya bisa demo dan demo,
padahal kalau di pikir secara logika dan sadar siapa lagi yang akan menekan setiap
kebijakan pemerintah selain mahasiswa. Apakah tukang ojeg disuruh demo, apakah
ibu-ibu kita yang sedang masak disuruh demo? Apakah guru-guru yang sedang
mengajar siswanya di suruh demo? Sejumlah pertanyaan diatas kemudian muncul
dalam pikiran saya. Melalui sejumlah aksi demo inilah sesungguhnya peran mahasiswa
dalam mengawal setiap langkah kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. maka
dari itu, paradigma saya yang semula setuju dengan statement guru saya
diatas yang dilarang ikut demo ketika jadi mahasiswa mulai saya rubah dan saya
punya pandangan sendiri tentang pentingnya mahasiswa dalam mengawal setiap
kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat melalui aksi demo yang dilakukan
mahasiswa dengan mengatasnamakan rakyat. Saya tidak menyalahkan pernyataan guru
saya, ada beberapa faktor kenapa guru saya ber statement seperti itu. Pertama
bagi saya mungkin pernyataan guru saya
tersebut dilatar belakangi karena faktor situasi politik ketika dia kuliah yang
pada waktu itu masih rezimnya orde baru, dimana kebebasan masyarakat sangat
dikekang oleh pemerintah pusat. Sehingga ketika dia menjadi mahasiswa, dia
tidak pernah ikut demo karena memang pada waktu itu dilarang demo. Kedua adalah
karena mungkin dia ketika kuliah tidak masuk dalam organisasi kampus yang
membuat dia kurang pengetahuan akan pentingnya pergerakan mahasiswa dan
peranannya sebagai The Agent Of Change dan Social Control. Untuk
itu demo sangat penting bagi mahasiswa yang selalu menjunjung tinggi idealisme
dalam setiap aksinya serta menolak adanya intervensi dari berbagai pihak yang
mau memboncengi mahasiswa untuk kepentingan politik semata.
Pesan
Penulis:
-
Jadilah mahasiswa yang produktif dan
berkualitas.
-
Tetap junjung tinggi idealisme mahasiswa.
-
Wajib berorganisasi baik organisasi intra
kampus maupun ekstra kampus.
-
Ikutilah sejumlah aksi demo asalkan tidak
mengganggu waktu kuliah anda.
-
Rajin baca buku dan diskusi.
Ditulis:
08/07/2013
By:
Faizul Ibad
Blog: Faizul-ibad.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar