Senin, 09 September 2013

Tangis Air Mata Suriah

Kita telah menyaksikan di media massa, baik cetak maupun elektronik mengenai konflik di negara kaya minyak (Suriah). Hampir setiap hari kita di sajikan dengan berita-berita tentang Suriah yang tak pernah habis-habisnya mewarnai sejumlah media massa di Indonesia. Konflik Suriah merupakan konflik internal antara militer yang pro Assad dengan oposisi yang kontra Assad. Konflik ini bermula dari serangkaian protes terhadap kepemimpinan Bashar Assad yang lebih dari lima dekade memimpin negeri itu. Selama lima dekade tersebut kepemimpinan Assad dinilai tidak membuat negeri yang kaya minyak itu semakin maju, tetapi sebaliknya banyak yang menuduh Assad menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya dirinya sendiri. Ini bisa dilihat dari kehidupan Asma Al-Assad –istri Assad– yang  serba “wah”  dengan membeli perhiasan-perhiasan yang bernilai miliaran rupiah ditengah konflik dan kemiskinan yang melanda negaranya.

Selama konflik berlangsung kegiatan perekonomian di negeri itu mengalami kemunduran, hal ini menyebabkan banyak sekali pengangguran di Negara tersebut. Selain banyaknya pengangguran, banyak anak-anak yang putus sekolah akibat kondisi negaranya yang tidak aman, membuat mereka enggan keluar rumah untuk pergi ke sekolah.
Memang tidak dapat dipungkiri, setiap konflik pasti akan merugikan pihak yang terlibat di dalamnya, apalagi konflik yang melibatkan pemerintah dengan rakyatnya. Bagaimanpun juga rakyat tidak akan menang melawan pemerintah yang di dukung oleh tentara yang bersenjata lengkap. Rakyatlah yang akan menjadi korban akibat kekerasan tersebut. Menurut data PBB jumlah warga Suriah yang tewas akibat konflik selama dua tahun tersebut berjumlah lebih dari 100.000 orang. Oleh sebab itu PBB menyerukan agar konflik ini harus segera di akhiri.
AS “Kecewa”
Setelah konflik Suriah yang tak tahu kapan berakhir dan disertai dengan semakin banyaknya korban berjatuhan dari kalangan pemberontak, membuat AS “geram” dengan konflik ini. Disamping itu, dugaan yang menyatakan bahwa Presiden Bashar Assad menggunakan senjata kimia dalam sejumlah serangan yang dilakukannya terhadap pemberontak. Kecurigaan ini pun akhirnya membuat AS menyelidiki penggunaan senjata kimia tersebut dengan menekan PBB untuk mengusut pengunaan sejata kimia itu. Setelah dikantongi sejumlah bukti yang mendukung AS untuk menyerang Suriah dengan kekuatan militer. Tetapi tidak ada bagi AS untuk “menyelesaikan” kasus Suriah sendirian, AS sengaja mengajak para sekutunya untuk bersama-sama menginvasi Suriah seperti yang dulu mereka lakukan terhadap Irak. Tetapi, yang mengejutkan bagi AS adalah ketika Negara terdekatnya Inggris menolak mentah-mentah ajakan AS untuk menyerang Suriah. Hampir suara mayoritas di parlemen Inggris menolak tawaran Perdana Meteri Inggris David Cameron untuk membantu AS dalam melancarkan serangan terhadap Suriah. Tentu ini membuat AS menelan ludah dan tak bisa terbayangkan jika AS menyerang Suriah tanpa bantuan Inggris yang dinilai sangat loyal kepada AS. Bagaimanapun juga AS harus terima keputusan parlemen Inggris untuk menolak ajakan AS tersebut karena rakyat Inggris tidak mau negaranya terlibat dalam peperangan. Selain itu AS juga kecewa dengan sikap PBB yang cenderung menekan AS untuk tidak “gegabah” dalam menyelesaikan konflik Suriah. Sebelumnya memang sudah diadakan pertemuan antara anggota tetap Dewan Keamanaan PBB di New York untuk membahas Suriah, tetapi lagi-lagi AS harus menelan ludah untuk yang kedua kalinya. Dalam pertemuan yang sesingkat itu berlangsung, masing-masing anggota Dewan Keamanaan PBB yaitu Inggris, Prancis, Russia, China dan Amerika. Keempat Negara anggota DK PBB meminta AS agar tidak menggunakan aksi militer dalam menyelesaikan konflik Suriah.  
Pandangan Penulis
Bagaimanapun juga kekerasan tidak dibenarkan dalam menyelesaikan masalah apapun, termasuk dalam menyelesaikan masalah Suriah. Kita mungkin sudah tahu bahwa konflik di Suriah merupakan konflik yang melibatkan penguasa dengan rakyatnya (oposisi). Seperti yang saya sebutkan diatas bahwa bagaimanapun juga rakyat tidak akan menang melawan pemerintah yang di dukung oleh militer yang bersenjatakan lengkap, sehingga kebanyakan yang jadi korban dalam masalah ini adalah berada di pihak rakyat dalam hal ini pihak oposisi. Tak heran “kebiadaban” ini pun akhirnya tidak bisa dibiarkan terlalu lama, karena ini sudah menyangkut sekaligus melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Apabila penyelesaian konflik melalui aksi militer yang AS canangkan untuk melemahkan rezim Assad tidak akan dapat menyelesaikan masalah, malah justru akan semakin memperparah keadaan. Kita tidak ingin melihat Suriah bernasib sama seperti Irak. Irak yang dulu merupakan Negara yang kaya raya serta Negara yang paling diperhitungkan di kawasan Timur Tengah sekarang menjadi Negara yang “kacau”. Kekacauan  ini bermula sejak invasi AS ke Irak pada tahun 2003 yang bermotivkan dugaan Saddam Husein memproduksi senjata pemusnah massal. Tetapi dugaan ini pun akhirnya sampai sekarang tidak bisa di buktikan kebenarannya oleh AS. Mungkin dari situlah Negara-negara yang dulu pro terhadap setiap kebijakan luar negeri AS di kawasan Timur Tengah kini mereka memperhitungkan kembali untuk “menuruti” sejumlah kebijakan AS terutama dalam masalah Suriah.
Bagi penulis, memang tidaklah mudah menyelesaikan konflik Suriah yang semakin alot dan cenderung semakin brutal, ditambah dengan banyaknya korban jiwa yang berjatuhan. Assad yang mempunyai nafsu kekuasaan yang sangat tinggi tidak mau melepas kekuasaannya begitu saja, sebaliknya dipihak oposisi yang selalu menyuarakan agar Assad mundur dari jabatannya sebagai presiden membuat Assad semakin gencar menyerang dan membunuh rakyatnya sendiri. Hal ini perlu tindakan yang nyata dan tegas dari PBB selaku organisasi yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan kebijakan terkait masalah Suriah. PBB dalam hal ini bisa memaksa pemerintah dan pihak oposisi di Suriah untuk melakukan gencatan senjata dan melakukan pemilihan umum sesuai undang-undang yang berlaku, agar terciptanya kembali kehidupan yang kondusif sebelum konflik terjadi. Sehingga terhindar dari campur tangan dari Negara-negara yang memiliki banyak kepentingan di negara yang kaya minyak itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar